|
Keluarga merupakan miniature peradabaan dari
sebuah bangsa yang madani. Bangsa yang maju meruakan bentuk cerminan
dari sebuah tatanan keluarga yang berbasis sorgawi, yakni keluaraga yang
dibangun atas dasar mawaddah dan mahligai rohmat (baca; cinta).
Bangsa yang maju tidak sekedar diukur oleh tingkat pencapaian ilmu
pengetahuan, budaya dan teknologi mutakhir, tapi kemajuan sebuah bangsa
diukur oleh tingkat kualitas moral (baca: pendidikan)
rakyat dan pejabatnya. Menurut Fasli Jalal, Ph.D; sejarah perkembangan
dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang maju,
modern, makmur dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan
praktik pendidikan yang bermutu.
Dalam sebuah kajian pendidikan, ada tiga
basis pendidikan yang cukup mafhum dikenal oleh para pemerhati pendidikan,
yakni pendidikan informal (keluarga), pendidikan non formal (lingkungan) dan
pendidikan formal (lembaga sekolah). Ketiganya merupakan sistem pendidikan
makro yang semestinya sinergis dan mendapat kajian serius dari semuia pihak.
Ada satu paradigma yang berkembang di masyarakat bahwa pendidikan menjadi
tanggung jawab mutlak dari sebuah lembaga pendidikan formal dan ini berimbas
pada minimnya perhatian orang tua dan masyarakat terhadap peranan pendidikan
informal (keluarga) maupun pendidikan non formal (masyarakat ; madrasah
diniyah, pesantren, majlis ta’lim dan sebagainya) yang sesungguhnya dapat
dimamsimalkan dan disinergiskan dengan pendidikan formal. Akan tetapi
yang menjadi kajian serius adalah ; dari ketiga basis pendidikan yang ada,
basis pendidikan yang manakah yang memiliki porsi dominan untuk menghantarkan
peresta didiknya kepada hakekat manusia yang sesungguhnya..??
Munculnya nama-nama wakil rakyat hingga
artis yang memenuhi deretan panjang kasus moral bangsa Indonesia Raya,
dijamaahi oleh orang-orang yang justru tingkat strata pendidikannya jauh
lebih tinggi dari para pengangguran hingga penjual asongan yang mencuri
karena imbas dari gagalnya pemerintah meberikan lapangan pekerjaan yang layak
bagi mereka. Yang menjadi pertanyaan mendasar utuk sebuah lembaga pendidikan
formal adalah bagaimana sistem manajemen dan kurikulum
yang kepada peserta didiknya hingga output yang dihasilkan oleh sekolah
justru mencetak rekor muri angka statistik kasus moral bangsa..?? Orientasi
pendidikan sudah diselewengkan, Pergaulan
bebas laki-laki dengan perempuan seakan sudah menjadi bagian kultur
sekolah, pacaran terkesan menjadi bagian kurikulum dan tawuran pelajar
dianggap sebagai bagian dari implementasi mata pelajaran olah raga
belum lagi lunturnya sopan santun yang sama-sama dilakukan oleh siswa dan guru
Sepertinya ada yang kurang, tanpa bermaksud
mengunggulkan satu basis lembaga pendidikan dan memandulkan peran lembaga
pendidikan yang lain akan tetapi jika diamati kekurangan ini berawal dari
sebuah paradigma kuna yang dianut oleh masyarakat beraliran kejawen tur ndeso
yang mengklaim bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah lewat
pendidikan formalnya tanpa memaksimalkan peran basis-basis pendidikan yang
lain seperti peran pendidikan keluaraga dan masyarakat . Nah, disini saya
akan persembahkan tulisan ini untuk Allah dan kekasihku pujaan hati
pesuruh Allah (baca; Rasulullah) Muhammad SAW. Oret-oretan ini akan saya
sandarkan pada QS. Al Anbiya, Ash-Shoffaat dan Ibrahim dengan menggunakan
pendekatan sejarah keteladanan Nabi Ibrohim as dalam memaksimalkan peran
ganda pendidikan informal atau keluarga yang sempat oleh Allah diabadikan
dalam Al Qur’an. Semoga tulisan ini bisa menjadi bagian amal sholih yang
ikhlas dan menjadi bagian kontribusi kecil dari upaya perbaikan
terhadap besarnya persoalan kondisi pendidikan bangsa.
Islam sebagai agama mayoritas bangsa
Indionesia diyakini memeiliki sumber referensi aspek kehiduan manusia, dari
mulai aturan paling terkecil mau makan hingga masuk WC, Islam juga ikut
interfensi dan mengatur tentanag bagaimana funsi dan peranan ayah, bunda dan
anak dalam memenej keluarga yang damai (baca: sakinah). Ada ayah sebagai
kepala keluarga yang berperan sebagai pelindung dan pemelihara keluarga (QS.
At-Tahrim: 6). Ada bunda yang berperan sebagai ummul madrosatil uula yakni
pendidik
pertama dalam keluarga dan pengganti kedudukan kepala keluarga (menjadi
pelindung dan pemelihara; ciri istri sholihah) tatkala seorang suami tidak
ada dirumah. Ada anak yang berperan sebagai penerus harapan orang tua menjadi
anak yang sholeh sholihah (QS. Al Israa’: 23). Setidaknya ada empat
komponen ideal dalam sebuah keluarga yakni ayah, bunda, anak dan aturan
keluarga. Dari sanalah sebuah tatanan masyarakat dan bangsa ditentukan masa
depannya.
1. Perhatian Orang Tua Terhadap
Lingkungan Anak
(Iqtinaaul Aaba Bimu’aasyarotil
Aulaad)
Dalam kajian psikologi,
dikenal dengan tiga teori
perkembangan manusia yang akan berpengaruh pada perkembangan karakter dan
catatan sejarah manusia. Salah satunya adalah teori Empirisme yang pertama
kali dikenalkan oleh John Locke. Dengan teori ini, setiap manusia yang
dilahirkan dari rahim seorang ibu dianggap tidak memiliki pembawaan karakter
apaun sebagaimana kertas putih sehingga lingkungan dimana ia tinggallah
yang akan memoles dan membentuk bagaimana perkembangan manusia berikutnya.
Imlikasi teori ini ahirnya menghendaki bahwa sejarah perkembangan kehidupan
seseorang akan amat ditentukan oleh kekuatan intensitas pengaruh lingungan
tempat dimana dan bersama siapa ia tinggal.
1400 tahun yang silam sebelum para tokoh
pendidikan berpikir tentang teori ini, tokohnya para tokoh pendidikan kaliber
dunia
yakni Muhammad SAW sudah mendengungkan lewat kata mutiaranya bahwa :“setiap
bayi yang lahir, terlahir dalam keadaan suci bersih
(fitroh) sehingga lingkungan-nyalah (fa
abaawahu) yang akan menjadikan dia yahudi atau nasroni atau penyembah api”. Jika
kata fitroh ini diartikan sebagai suci bersih sebagaimana
dikutip oleh beberapa pendapat, maka setiap bayi yang terlahir mestinya tidak
memiliki tanggung jawab untuk memikul sebagian karakter buruk dan baik orang
tuanya tapi suci bersih dari catatan sejarah orang tuanya. Jika kata fa
abaawahu diartikan secara tekstual maka akan kita temukan arti “kedua
orang tua” dan makna ini saya pikir terlalu sempit untuk arti dari kata fa
abaawahu. Akan tapi jika kata fa abaawahu diartikan
secara kontekstual maka akan lebih relefan dan luas dengan arti lingkungan.
Ini sebagaimana pengertian dari kata lingkungan yang berarti bahwa segala
sesuatu selain diri kita maka disebut lingkungan, nah orang tua termasuk
bagian dari lingkungan.
Saya ajak ikhwah fillah untuk
menyelami sejarah Nabi Ibrohim as dalam QS. Al Anbiyaa’: 48-73. Kawan-kawan
akan temukan bagaimana kondisi umat manusia ketika itu, lingkungan masyarakat
yang mempertuhakan sebongkah batu adalah bukti bagaimana dekadensi moral
masyarakat Nabi Ibrohim as hidup. Bahkan yang lebih mengherakan dalam sebuah
catatan sejarah adalah Nabi Ibrohim as tidak berdaya menyadarkan orang tuanya
yang berprofesi sebagai pembuat patung untuk dijadikan sesembahan masyarakat
ketika itu dan kejadian ini terekam oleh Allah tepat pada ayat yang ke 52-56
dari QS Al Anbiya. Berbagai upaya dilakukan oleh beliau salah satunya adalah
penghancuran terhadap patung-patung yang menjadi sesembahannya hingga pada
klimaksnya orang-orang musyrik tersebut membakar Nabi Ibrohim as diatas gunungan
kayu bakar tapi Allah selamatkan beliau “Yaa naaru kuunii bardan
wasalaaman ‘alaa Ibroohim ; hai api enjadi dinginlah dan keselamatanlah bagi
ibrohim” QS. Al Anbiya : 69.
Nah apa yang lantas dilakukan oleh beliau
setelah oleh Allah selamatkan beliau dari jilatan api..?? Temukan jawabannya
pada ayat 99 dari QS. Ash Shaaffaatt, “Innii dzaahibun ilaa robbii
sayahdiin; sesungguhnya saya pergi menghadap kepada Tuhanku
dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku” Beliau hijrah dari satu negera
yang subur makmur alamnya menuju kesatu negeri yang sepi, kering kerontang
dan padang pasir serta gunung batu yang terjal yakni Makah. Disinilah beliau
meminta kepada Allah :“Robbij’al haadzal balada aaminan wajnubnii
wabaniyya an ta’budal ashnaam. Robbii innahunna idhlalna katsiiron minannaas
; Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makah) negeri yang aman dan jadikanlah
aku beserta anak cucku dari pada menyembah berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebayakan daripada manusia”. QS.
Ibrahim : 35-36. Dan dinegri yang tandus ini pulalah kemudian beliau berdoa
meminta keturunan :“Robbi hablii minashsholihin; duhai Tuhanku,
anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh”
QS. Ash Shaaffaat: 100 dan tepat pada ayat ke 101 Allah membalas doa beliau :“Fabsyarnaahu
bighulaamin khaliim; maka Kami (Allah) beri dia kabar gembira dengan seorang
anak yang amat sabar”. Lahirlah Nabi Isma’il as bin Nabi Ibrohim as.
Kisah tersebut membawa kita pada satu ilmu
sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa lingkungan memiliki pengaruh kuat
untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Ketika beliau beserta
istrinya masih dalam keadaan jreng muda dan hidup disatu negeri yang
subur alamnya tapi masyarakatnya bobrok moralnya, beliau tidak begegeas
meminta keturunan, karena ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan
anaknya. Tapi walau dinegeri yang miskin akan buah-buahan,tumbuh-tumbuhan,
ternak, air dan sepi dari kominitas manusia serta sudah berjenggot
putih karena termakan usia manula justru beliau baru menengadahkan kedua
tangannya untuk meminta keturunan. Ini karena Makah adalah negeri yang
jauh dari kebobrokan moral pada saat itu dan lingkungan yang seperti itulah
yang dikehendaki beliau untuk mencetak generasi robbani. Tentang
betapa kuatnya pengaruh lingkungan terhada perkembangan anak, Kekasih kita
yang mulia juga mengatakan :“Ajjaar qobladdaar; pilihlah lingkungan yang
akan menjadi tatangga sebelum menentukan dimana akan mebuat dan mendesain
bentuk bangunan rumah”. Pesan inti dari hadits
ini adalah betapa lingkungan atau tetangga, amat menentukan idealnya sebuah
tatanan sistem keluaraga dan masyarakat yang madani (civil socaity). Jangan
harap kita bisa menemukan anak yang taat, santun, jujur, baik hati dan tidak
sombong sementara ia hidup ditengah-tengah keluarga dan masyarakatnya krisis
pendidikan agamanya
Kontrollah pergaulan anak dengan siapa di
berteman, karena Nabi SAW sudah mengingatkan dalam satu haditsnya :“Arrofiiq
qoblaththoriiq ; pilihlah teman dengan selektif sebelum menentukan tujuan
bergaul”. Mahasiswa atau pelajar bukan sebuah jaminan anak yang baik
untuk dijadikan teman hidup, justru kebejadan moral banyak dipelopori oleh
kaum terpelajar. Anak orang kaya maupun miskin juga bukan standar kualitas
moral seseorang, karena tidak sedikit kasus-kasus kenakalan remaja tidak
memandang terhadap status sosialnya. Sempatkan orang tua atau kakak tertua
untuk mendampingi anak atau adiknya ketika menonton program televisi, karena
dari media sekotak kaca itulah sebuah penjajahan budaya dan pemikiran sudah
banyak mempengaruhi gaya hidup hedonis dan merusak aqidah. Anak-anak batita
hingga para manula, lebih hafal dengan nama-nama artis dari pada nama-nama
sahabat nabi beserta sejarah kehidupannya, na’udzubillah..
2. Perhatian Do’a Orang Tua Terhadap
Anak
(Iqtinaaul Aaba Bidu’aail Aulaad)
Doa merupakan bentuk
amaliyah yang secara total melibatkan peran kehadiran hati. Do’a menjadi
penghantar fertikal untuk menyambungkan upaya lahir (usaha fisik) dengan
upaya bathin (usaha psikis) antara seorang hamba dengan Allah. Dalam kehidupan
sehari-hari, keberhasilan atau kegagalan seseorang menunaikan satu rencana,
tidak terlepas dari faktor eks (faktor yang tidak terduga yang akan
mensukseskan ataupun mnenunda kesuksesan satu rencana) meskipun faktor
internal menjadi hal terpenting dalam mengawali sebuah harapan. Nah,
disinilah peranan doa bahwa doa memiliki porsi bergizi dan posisi urgen dalam
roses “lobying” terbukanya pintu rahmat antara seorang hamba dengan Tuhannya,
“Addu’aau miftaahurrohmat; Do’a adalah kunci pembuka rahmat” (H.R. Ad-Dailami).
Makanya nabi mengatakan :”Addu’aau mukhkhul ‘ibaadah ; doa meruakan
pusaran inti dari sebuah aktifitas ibadah” (H.R. At-Turmudzi)
Harapan orang tua menjadikan anaknya sholih
sholihah dan lebih baik dari dirinya adalah fitroh orang tua. Siang malam
orang tua banting tulang peras keringat bermandikan peluh menghimpun uang
untuk anaknya, adalah salah satu bentuk lahir betapa orang tua ingin
meberikan pelayanan terbaik agar anaknya bisa sekolah lebih tinggi dan
menyandang status sosial yang lebih mulia dari dirinya yang mungkin hanya
sekedar guru honorer dan tukang becak serta buruh batik atau mungkin sekedar
tukang sapu masjid. Barangkali orang tua juga sudah melakukan upaya
maksimal untuk mengontrol pergaulan anaknya bahkan menyekolahkan anaknya di
sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Islam dengan harapan anaknya bisa
mempelajari Islam lebih maksimal dalam lingkungan yang islami dan menjadi
anak yang sukses dunia yang membakti kepada kedua orang tuanya dan buanyak
sekali harapan dan usaha orang tua untuk anaknya.
Tapi apakah upaya lahir seperti itu sudah
cukup untuk menghantarkan anaknya sesuai dengan segudang harapa tersebut..??
Cara mendidik orang tua tidak berhenti sampai disitu, manusia memiliki
ketidak berdayaan untuk menyentuh wilayah batas Tuhan (baca; faktor eks). Keterbatasan
manusia itulah yang menjadi pembeda antara Kholiq dengan makhluk-Nya untuk
membuka celah manusia menyerahkan segala upayanya kepada Allah
(tawakkal) lewat doa yang diapanjatkan secara tulus kepada Allah dan inilah
yang disebut dengan proses “lobying” sebagai upaya bathin.
Betapa Nabi Ibrohim as dihadapan Allah sadar
akan kelemahan dan kebodohannya mendidik anak
ditengah-tengah kehidupan yang menjadikan sesembahan patung sebagai kultur
masyarakat, sehingga beliau tidak pernah berhenti untuk mendoakan Nabi Ism’il
as :“Robbi hablii minashshoolihin; duhai Tuhanku, anugerahkanlah
kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” QS. Ash
Shaaffaat: 100. “Robbij’alnii muqiimashsholaah wa min dzurriyyatii ; Ya
Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat”. QS.
Ibrahim: 40 .Inilah yang diajarkan oleh beliau sebuah doa yang sederhana
untuk umat Nabi Muhammad SAW, beliau tidak sekedar mendoakan dirinya tapi
untuk anak cucunya termasuk kita.
Disebutkan dalam sebuah hadits, kekasih kita
Muhammad SAW bersabda :“Du’aaul waalid li waladihi kadu’aainnabii li
ummatihi ; Doanya orang tua terhadap anaknya, bagaikan doanya nabi untuk
ummatnya”. (H.R. Ad-Dailami). Siapa yang berani menyangkal kesaktian doa
para nabi..?? Jika kedudukan dan kesaktian doa para nabi untuk ummatnya
disejajarkan dengan kekuatan doanya orang tua kepada anaknya, itu artinya
bahwa rangakaian huruf yang tersusun dalam sebuah bahasa doa orang tua yang
dipanjatkan secara tulus kepada Allah tentunya akan memiliki bargaining power
yang mampu meluncurkan pesan doa menembus lapisan dimensi kepada Robbbul
‘Izzati. Sungguh Allah amat pemalu untuk meolak permohonan hambanya yang
telah menegadahkan tangan dan kepalanya. Dan sungguh Allah amat pencemburu
terhadap hamba-Nya yang tidak memohon kepada-Nya. Barangkali akan marah dan
bosan ketika seorang hamba selalu diminta dan diminta kepada sesamanya, tapi
amat sangat berbeda dengan Allah, Dia yang Maha Rohman Rahim akan
semakin cinta kepada hamba-Nya yang rajin siang dan malam bermunajat kepada
Allah. Semaikin hamba bermunajat kepada Allah, maka akan semakin jelas
pengakuan dirinya lemah dan miskin dihadapan Sang Maha Perkasa dan Maha Kaya.
Mendidik anak sholih sholihah ditengah kondisi jaman sekarang ini, bukanlah
persoalan mudah. Segala fasilitas produk medernisasi yang sulit dihindari,
berimplikasi pada perubahan drastis dan nyaris mengilangkan ozon identitas
muslim. Maraknya fasilitas hiburan, gencarnya suguhan-suguhan yang dimotori
oleh multi media dan kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidiak anak,
anak-anak dan remaja hingga manula sudah mulai bandel menyebrangi budaya
westernisasi tanpa awas dan waspada. Dunia pendidikan bukanlah tempat yang
tepat untuk menitipkan harapan orang tua menjadikan anaknya sholih sholihah,
karena potret lembaga pendidikan saat ini tak jauh berbeda dari tempat
penitipan sepeda. Sampaikan dan titipkanlah kepada Allah keluhan dan harapan
besar terhadap anaknya setiap hari minimal usai sholat fardlu. Pasrahkan
harta dan keturunan kepada Allah yang jika datang hari itu maka semuanya
tidak lagi berguna (QS. Asy Syu’araa’: 88-89).
3. Perhatian Orang Tua Terhadap
Sholat Anak
(Iqtinaaul Aaba Bisholaatil Aulaad)
Betapa Allah SWT amat
memperhatikan dan menyayangi hamba-Nya melebihi perhatian dan kasih sayangnya
seorang ibu terhadap buah hatinya yang tercinta. Barangkali masih ada
atau bahkan banyak orangtua yang tidak memberikan ruang komunikasi yang
intens dengan anaknya untuk saling berbagi dan mengadu. Berbeda
dengan Allah yang telah memberikan sarana bincang-bincang dengan hamba-Nya
paling tidak lima sesen dalam sehari semalam, yakni sholat. Yah sholat,
sholat merupakan sarana perjumpaan antara seorang hamba dengan
Tuhannya. Segala persoalan kehidupan hingga kebutuhan manusia,
disanalah bisa dikeluhkan dan dikonsultasikan lewat sholat, subhaanallah..
Kekesih kita Muhammad SAW, memberikan info
penting kepada umatnyua bahwa: “Ashsholaatu mi’rojul mu’min; sholat
merupakan mi’rojnya seorang mukmin”. Mi’roj merupakan perjumpaan nabi
Muhammad SAW dengan Kekasihnya yakni Allah SWT ketika nabi dilanda problem
hebat dan kemudian lewat mi’rojlah nabi menuntaskan segala keluhan dan
kebutuhannya sekaligus bernostalgia keliling alam jagat semesta
raya. Itu artinya bahwa sholat yang dilakukan oleh seorang mukmin,
merupakan bentuk lain dari mi’roj sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
Nabi. Siapa yang tidak merindukan perjumpaan dengan Sang Maha Kaya,
Maha Perkasa, Maha Menolong dan Maha Memeberi..?? Sayangnya fasilitas sholat
yang Allah syari’atkan kepada hamba-Nya, tidak dimaknai sebagai fasilitas
yang sebenarnya memanjakan dan membahagiakan pelaku sholat tapi justru
menjadi beban, na’udzubillah..
Begitu pentingnya fungsi dan peranan sholat
terhadap kesuksesan kehidupan, Nabi Ibrohim as selalu meperhatikan persoalan
sholat (QS. Ibrahim: 37 dan 40). Allah SWT dalam Al Qur’an menginformasikan
betapa dasyatnya peranan sholat terhadap perjalanan sejarah seseorang :“Sesungguhnya
(amat) beruntunglah (aflakha) orang-orang
yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. QS. Al
Mu’minun: 1-2. Perhatikan kata aflakha..! Kata tersebut memakai
kalimah isim tafdhil yang berarti melebihkan makna aslinya dari asal kata falakha
(beruntung). Jadi kata aflakha tidak cukup diartikan sebagai
keberuntungan saja, tapi kata aflakha memiliki arti yang cukup luar
biasa yakni keberhasilan, kesukesan hidup, kejayaan karir, ketenangan hati,
kedamaian rumah tangga, keindahan akhlak dan kebahagiaan hidup dunia akhirat.
Untuk siapa fasillitas kemuliaan aflakha ini..?? Yakni orang-orang
yang khusyu’ dalam sholatnya.
Jika sekiranya orang tua mendidik anaknya
tentang bagaimana pentingnya fungsi dan efek sholat sejak dini disertai
dengan peneladanan orang tua, niscaya tidak dan tidak akan pernah ada orang
tua yang stres gara-gara ulah kenakalan anaknya. Tidak akan ditemukan
anak yang membangkang dan berani membentak perintah seorang ibu, karena anak
sudah trcerahkan dqan terbimbing dengan terbiasa berjumpa dengan
Kekasihnya (Allah) lewat sholat. Perhatian orang tua terhadap anak
tentang sholat mestinya mendapat peringkat utama karena dari sholatlah segala
persoalan hidup akan mudah diselesaikan dan ditolong jika seluruh penghuni
rumahnya sholat (QS. Al Baqarah: 45). Sungguh lebih ringan bertakbir
mengangkat kedua tangan untuk sholat dan mengontrol sholatnya anak-anak dari
pada menguras sumur atau mengangkat cangkul disawah. Karena memang sholat
bukanlah sekedar pekerjaan fisik tapi psikis dan keterlibatan peran hati yang
tidak sekedar dipahami sebagai bacaan atau gerakan dan kewajiban belaka oleh
umat Islam tapi sholat menjadi kebutuhan, yah “kebutuhan”
dan “mi’roj” sarana perjumpaan hamba dengan Sang Kekasihnya
Allah SWT, sehingga ini mustinya menjadi kebutuhan pokok jasmani dan rohani
manusia. Melihat sedemikian urgentnya implikasi sholat terhadap benteng
pendidikan anak, sudah menjadi semetinya orang tua sadar melakukan “Gerakan
Orang Tua Peduli Sholat” dengan memastikan penghuni keluarganya
melaksanakan sholat fardlu sejak dini dengan peneladanan dari orang tua.
|
Rabu, 29 Oktober 2014
ilmu mendidik anak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar