Rabu, 29 Oktober 2014

ilmu mendidik anak

Keluarga merupakan miniature peradabaan dari sebuah bangsa yang madani.  Bangsa yang maju meruakan bentuk cerminan dari sebuah tatanan keluarga yang berbasis sorgawi, yakni keluaraga yang dibangun atas dasar mawaddah dan mahligai rohmat (baca; cinta). Bangsa yang maju tidak sekedar diukur oleh tingkat pencapaian ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi mutakhir, tapi kemajuan sebuah bangsa diukur oleh tingkat kualitas moral (baca: pendidikan) rakyat dan pejabatnya.  Menurut Fasli Jalal, Ph.D; sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu.
Dalam sebuah kajian pendidikan, ada tiga basis pendidikan yang cukup mafhum dikenal oleh para pemerhati pendidikan, yakni pendidikan informal (keluarga), pendidikan non formal (lingkungan) dan pendidikan formal (lembaga sekolah). Ketiganya merupakan sistem pendidikan makro yang semestinya sinergis dan mendapat kajian serius dari semuia pihak. Ada satu paradigma yang berkembang di masyarakat bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab mutlak dari sebuah lembaga pendidikan formal dan ini berimbas pada minimnya perhatian orang tua dan masyarakat terhadap peranan pendidikan informal (keluarga) maupun pendidikan non formal (masyarakat ; madrasah diniyah, pesantren, majlis ta’lim dan sebagainya) yang sesungguhnya dapat dimamsimalkan dan disinergiskan dengan pendidikan formal.  Akan tetapi yang menjadi kajian serius adalah ; dari ketiga basis pendidikan yang ada, basis pendidikan yang manakah yang memiliki porsi dominan untuk menghantarkan peresta didiknya kepada hakekat manusia yang sesungguhnya..??
Munculnya nama-nama wakil rakyat hingga artis yang memenuhi deretan panjang kasus moral bangsa Indonesia Raya, dijamaahi oleh orang-orang yang justru tingkat strata pendidikannya jauh lebih tinggi dari para pengangguran hingga penjual asongan yang mencuri karena imbas dari gagalnya pemerintah meberikan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka. Yang menjadi pertanyaan mendasar utuk sebuah lembaga pendidikan formal adalah bagaimana sistem manajemen dan kurikulum yang kepada peserta didiknya hingga output yang dihasilkan oleh sekolah justru mencetak rekor muri angka statistik kasus moral bangsa..?? Orientasi pendidikan sudah diselewengkan, Pergaulan bebas laki-laki dengan perempuan seakan sudah menjadi bagian kultur sekolah, pacaran terkesan menjadi bagian kurikulum dan tawuran pelajar dianggap sebagai  bagian dari implementasi mata pelajaran olah raga belum lagi lunturnya sopan santun yang sama-sama dilakukan oleh siswa dan guru
Sepertinya ada yang kurang, tanpa bermaksud mengunggulkan satu basis lembaga pendidikan dan memandulkan peran lembaga pendidikan yang lain akan tetapi jika diamati kekurangan ini berawal dari sebuah paradigma kuna yang dianut oleh masyarakat beraliran kejawen tur ndeso yang mengklaim bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah lewat pendidikan formalnya tanpa memaksimalkan peran basis-basis pendidikan yang lain seperti peran pendidikan keluaraga dan masyarakat . Nah, disini saya akan persembahkan tulisan ini untuk Allah dan kekasihku pujaan hati pesuruh Allah (baca; Rasulullah) Muhammad SAW. Oret-oretan ini akan saya sandarkan pada QS. Al Anbiya, Ash-Shoffaat dan Ibrahim dengan menggunakan pendekatan sejarah keteladanan Nabi Ibrohim as dalam memaksimalkan peran ganda pendidikan informal atau keluarga yang sempat oleh Allah diabadikan dalam Al Qur’an. Semoga tulisan ini bisa menjadi bagian amal sholih yang ikhlas dan menjadi bagian kontribusi kecil dari upaya  perbaikan terhadap besarnya persoalan kondisi pendidikan bangsa.
Islam sebagai agama mayoritas bangsa Indionesia diyakini memeiliki sumber referensi aspek kehiduan manusia, dari mulai aturan paling terkecil mau makan hingga masuk WC, Islam juga ikut interfensi dan mengatur tentanag bagaimana funsi dan peranan ayah, bunda dan anak dalam memenej keluarga yang damai (baca: sakinah). Ada ayah sebagai kepala keluarga yang berperan sebagai pelindung dan pemelihara keluarga (QS. At-Tahrim: 6). Ada bunda yang berperan sebagai ummul madrosatil uula yakni pendidik pertama dalam keluarga dan pengganti kedudukan kepala keluarga (menjadi pelindung dan pemelihara; ciri istri sholihah) tatkala seorang suami tidak ada dirumah. Ada anak yang berperan sebagai penerus harapan orang tua menjadi anak yang sholeh sholihah (QS. Al Israa’: 23).  Setidaknya ada empat komponen ideal dalam sebuah keluarga yakni ayah, bunda, anak dan aturan keluarga. Dari sanalah sebuah tatanan masyarakat dan bangsa ditentukan masa depannya.
1. Perhatian Orang Tua Terhadap Lingkungan Anak
(Iqtinaaul Aaba Bimu’aasyarotil Aulaad)
Dalam kajian psikologi, dikenal dengan tiga teori perkembangan manusia yang akan berpengaruh pada perkembangan karakter dan catatan sejarah manusia. Salah satunya adalah teori Empirisme yang pertama kali dikenalkan oleh John Locke. Dengan teori ini, setiap manusia yang dilahirkan dari rahim seorang ibu dianggap tidak memiliki pembawaan karakter apaun sebagaimana kertas  putih sehingga lingkungan dimana ia tinggallah yang akan memoles dan membentuk bagaimana perkembangan manusia berikutnya. Imlikasi teori ini ahirnya menghendaki bahwa sejarah perkembangan kehidupan seseorang akan amat ditentukan oleh kekuatan intensitas pengaruh lingungan tempat dimana dan bersama siapa ia tinggal.
1400 tahun yang silam sebelum para tokoh pendidikan berpikir tentang teori ini, tokohnya para tokoh pendidikan kaliber dunia yakni Muhammad SAW  sudah mendengungkan lewat kata mutiaranya bahwa :“setiap bayi yang lahir, terlahir dalam keadaan suci bersih (fitroh) sehingga lingkungan-nyalah (fa abaawahu) yang akan menjadikan dia yahudi atau nasroni atau penyembah api”. Jika kata fitroh ini diartikan sebagai suci bersih sebagaimana dikutip oleh beberapa pendapat, maka setiap bayi yang terlahir mestinya tidak memiliki tanggung jawab untuk memikul sebagian karakter buruk dan baik orang tuanya tapi suci bersih dari catatan sejarah orang tuanya. Jika kata fa abaawahu diartikan secara tekstual maka akan kita temukan arti “kedua orang tua” dan makna ini saya pikir terlalu sempit untuk arti dari kata fa abaawahu. Akan tapi jika kata fa abaawahu diartikan secara kontekstual maka akan lebih relefan dan luas dengan arti lingkungan. Ini sebagaimana pengertian dari kata lingkungan yang berarti bahwa segala sesuatu selain diri kita maka disebut lingkungan, nah orang tua termasuk bagian dari lingkungan.
Saya ajak ikhwah fillah untuk menyelami sejarah Nabi Ibrohim as dalam QS. Al Anbiyaa’: 48-73. Kawan-kawan akan temukan bagaimana kondisi umat manusia ketika itu, lingkungan masyarakat yang mempertuhakan sebongkah batu adalah bukti bagaimana dekadensi moral masyarakat Nabi Ibrohim as hidup. Bahkan yang lebih mengherakan dalam sebuah catatan sejarah adalah Nabi Ibrohim as tidak berdaya menyadarkan orang tuanya yang berprofesi sebagai pembuat patung untuk dijadikan sesembahan masyarakat ketika itu dan kejadian ini terekam oleh Allah tepat pada ayat yang ke 52-56 dari QS Al Anbiya. Berbagai upaya dilakukan oleh beliau salah satunya adalah penghancuran terhadap patung-patung yang menjadi sesembahannya hingga pada klimaksnya orang-orang musyrik tersebut membakar Nabi Ibrohim as diatas gunungan kayu bakar tapi Allah selamatkan beliau “Yaa naaru kuunii bardan wasalaaman ‘alaa Ibroohim ; hai api enjadi dinginlah dan keselamatanlah bagi ibrohim” QS. Al Anbiya : 69.
Nah apa yang lantas dilakukan oleh beliau setelah oleh Allah selamatkan beliau dari jilatan api..?? Temukan jawabannya pada ayat 99 dari QS. Ash Shaaffaatt, “Innii dzaahibun ilaa robbii sayahdiin; sesungguhnya saya pergi menghadap kepada Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku” Beliau hijrah dari satu negera yang subur makmur alamnya menuju kesatu negeri yang sepi, kering kerontang dan padang pasir serta gunung batu yang terjal yakni Makah. Disinilah beliau meminta kepada Allah :“Robbij’al haadzal balada aaminan wajnubnii wabaniyya an ta’budal ashnaam. Robbii innahunna idhlalna katsiiron minannaas ; Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makah) negeri yang aman dan jadikanlah aku beserta anak cucku dari pada menyembah berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebayakan daripada manusia”. QS. Ibrahim : 35-36. Dan dinegri yang tandus ini pulalah kemudian beliau berdoa meminta keturunan :“Robbi hablii minashsholihin; duhai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” QS. Ash Shaaffaat: 100 dan tepat pada ayat ke 101 Allah membalas doa beliau :“Fabsyarnaahu bighulaamin khaliim; maka Kami (Allah) beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Lahirlah Nabi Isma’il as bin Nabi Ibrohim as.
Kisah tersebut membawa kita pada satu ilmu sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa lingkungan memiliki pengaruh kuat untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Ketika beliau beserta istrinya masih dalam keadaan jreng muda dan hidup disatu negeri yang subur alamnya tapi masyarakatnya bobrok moralnya, beliau tidak begegeas meminta keturunan, karena ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan anaknya. Tapi walau dinegeri yang miskin akan buah-buahan,tumbuh-tumbuhan, ternak,  air dan sepi dari kominitas manusia serta sudah berjenggot putih karena termakan usia manula justru beliau baru menengadahkan kedua tangannya untuk meminta keturunan.  Ini karena Makah adalah negeri yang jauh dari kebobrokan moral pada saat itu dan lingkungan yang seperti itulah yang dikehendaki beliau untuk mencetak generasi robbani. Tentang betapa kuatnya pengaruh lingkungan terhada perkembangan anak, Kekasih kita yang mulia juga mengatakan :“Ajjaar qobladdaar; pilihlah lingkungan yang akan menjadi tatangga sebelum menentukan dimana akan mebuat dan mendesain bentuk bangunan rumah”. Pesan inti dari hadits ini adalah betapa lingkungan atau tetangga, amat menentukan idealnya sebuah tatanan sistem keluaraga dan masyarakat yang madani (civil socaity). Jangan harap kita bisa menemukan anak yang taat, santun, jujur, baik hati dan tidak sombong sementara ia hidup ditengah-tengah keluarga dan masyarakatnya krisis pendidikan agamanya
Kontrollah pergaulan anak dengan siapa di berteman, karena Nabi  SAW sudah mengingatkan dalam satu haditsnya :“Arrofiiq qoblaththoriiq ; pilihlah teman dengan selektif sebelum menentukan tujuan bergaul”. Mahasiswa atau pelajar bukan sebuah jaminan anak yang baik untuk dijadikan teman hidup, justru kebejadan moral banyak dipelopori oleh kaum terpelajar. Anak orang kaya maupun miskin juga bukan standar kualitas moral seseorang, karena tidak sedikit kasus-kasus kenakalan remaja tidak memandang terhadap status sosialnya. Sempatkan orang tua atau kakak tertua untuk mendampingi anak atau adiknya ketika menonton program televisi, karena dari media sekotak kaca itulah sebuah penjajahan budaya dan pemikiran sudah banyak mempengaruhi gaya hidup hedonis dan merusak aqidah. Anak-anak batita hingga para manula, lebih hafal dengan nama-nama artis dari pada nama-nama sahabat nabi beserta sejarah kehidupannya, na’udzubillah..
2. Perhatian Do’a Orang Tua Terhadap Anak
(Iqtinaaul Aaba Bidu’aail Aulaad)
Doa merupakan bentuk amaliyah yang secara total melibatkan peran kehadiran hati. Do’a menjadi penghantar fertikal untuk menyambungkan upaya lahir (usaha fisik) dengan upaya bathin (usaha psikis) antara seorang hamba dengan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan atau kegagalan seseorang menunaikan satu rencana, tidak terlepas dari faktor eks (faktor yang tidak terduga yang akan mensukseskan ataupun mnenunda kesuksesan satu rencana) meskipun faktor internal menjadi hal terpenting  dalam mengawali sebuah harapan. Nah, disinilah peranan doa bahwa doa memiliki porsi bergizi dan posisi urgen dalam roses “lobying” terbukanya pintu rahmat antara seorang hamba dengan Tuhannya, “Addu’aau miftaahurrohmat; Do’a adalah kunci pembuka rahmat” (H.R. Ad-Dailami). Makanya nabi mengatakan :”Addu’aau mukhkhul ‘ibaadah ; doa meruakan pusaran inti dari sebuah aktifitas ibadah” (H.R. At-Turmudzi)
Harapan orang tua menjadikan anaknya sholih sholihah dan lebih baik dari dirinya adalah fitroh orang tua. Siang malam orang tua banting tulang peras keringat bermandikan peluh menghimpun uang untuk anaknya, adalah salah satu bentuk lahir betapa orang tua ingin meberikan pelayanan terbaik agar anaknya bisa sekolah lebih tinggi dan menyandang status sosial yang lebih mulia dari dirinya yang mungkin hanya sekedar guru honorer dan tukang becak serta buruh batik atau mungkin sekedar tukang sapu masjid. Barangkali orang tua juga sudah melakukan  upaya maksimal untuk mengontrol pergaulan anaknya bahkan menyekolahkan anaknya di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Islam dengan harapan anaknya bisa mempelajari Islam lebih maksimal dalam lingkungan yang islami dan menjadi anak yang sukses dunia yang membakti kepada kedua orang tuanya dan buanyak sekali harapan dan usaha orang tua untuk anaknya.
Tapi apakah upaya lahir seperti itu sudah cukup untuk menghantarkan anaknya sesuai dengan segudang harapa tersebut..?? Cara mendidik orang tua tidak berhenti sampai disitu, manusia memiliki ketidak berdayaan untuk menyentuh wilayah batas Tuhan (baca; faktor eks). Keterbatasan manusia itulah yang menjadi pembeda antara Kholiq dengan makhluk-Nya untuk membuka celah manusia  menyerahkan segala upayanya kepada Allah (tawakkal) lewat doa yang diapanjatkan secara tulus kepada Allah dan inilah yang disebut dengan proses “lobying” sebagai upaya bathin.
Betapa Nabi Ibrohim as dihadapan Allah sadar akan kelemahan dan kebodohannya mendidik anak ditengah-tengah kehidupan yang menjadikan sesembahan patung sebagai kultur masyarakat, sehingga beliau tidak pernah berhenti untuk mendoakan Nabi Ism’il as  :“Robbi hablii minashshoolihin; duhai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” QS. Ash Shaaffaat: 100. “Robbij’alnii muqiimashsholaah wa min dzurriyyatii ; Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat”. QS. Ibrahim: 40 .Inilah yang diajarkan oleh beliau sebuah doa yang sederhana untuk umat Nabi Muhammad SAW, beliau tidak sekedar mendoakan dirinya tapi untuk anak cucunya termasuk kita.
Disebutkan dalam sebuah hadits, kekasih kita Muhammad SAW bersabda :“Du’aaul waalid li waladihi kadu’aainnabii li ummatihi ; Doanya orang tua terhadap anaknya, bagaikan doanya nabi untuk ummatnya”. (H.R. Ad-Dailami). Siapa yang berani menyangkal kesaktian doa para nabi..?? Jika kedudukan dan kesaktian doa para nabi untuk ummatnya disejajarkan dengan kekuatan doanya orang tua kepada anaknya, itu artinya bahwa rangakaian huruf yang tersusun dalam sebuah bahasa doa orang tua yang dipanjatkan secara tulus kepada Allah tentunya akan memiliki bargaining power yang mampu meluncurkan pesan doa menembus lapisan dimensi kepada Robbbul ‘Izzati. Sungguh Allah amat pemalu untuk meolak permohonan hambanya yang telah menegadahkan tangan dan kepalanya. Dan sungguh Allah amat pencemburu terhadap hamba-Nya yang tidak memohon kepada-Nya. Barangkali akan marah dan bosan ketika seorang hamba selalu diminta dan diminta kepada sesamanya, tapi amat sangat berbeda dengan Allah, Dia yang Maha Rohman Rahim akan  semakin cinta kepada hamba-Nya yang rajin siang dan malam bermunajat kepada Allah. Semaikin hamba bermunajat kepada Allah, maka akan semakin jelas pengakuan dirinya lemah dan miskin dihadapan Sang Maha Perkasa dan Maha Kaya. Mendidik anak sholih sholihah ditengah kondisi jaman sekarang ini, bukanlah persoalan mudah. Segala fasilitas produk medernisasi yang sulit dihindari, berimplikasi pada perubahan drastis dan nyaris mengilangkan ozon identitas muslim. Maraknya fasilitas hiburan, gencarnya suguhan-suguhan yang dimotori oleh multi media dan kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidiak anak, anak-anak dan remaja hingga manula sudah mulai bandel menyebrangi budaya westernisasi tanpa awas dan waspada. Dunia pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk menitipkan harapan orang tua menjadikan anaknya sholih sholihah, karena potret lembaga pendidikan saat ini tak jauh berbeda dari tempat penitipan sepeda. Sampaikan dan titipkanlah kepada Allah keluhan dan harapan besar terhadap anaknya setiap hari minimal usai sholat fardlu. Pasrahkan harta dan keturunan kepada Allah yang jika datang hari itu maka semuanya tidak lagi berguna (QS. Asy Syu’araa’: 88-89).
3. Perhatian Orang Tua Terhadap Sholat Anak
(Iqtinaaul Aaba Bisholaatil Aulaad)
Betapa Allah SWT amat memperhatikan dan menyayangi hamba-Nya melebihi perhatian dan kasih sayangnya seorang ibu terhadap buah hatinya yang tercinta.  Barangkali masih ada atau bahkan banyak orangtua yang tidak memberikan ruang komunikasi yang intens dengan  anaknya untuk saling berbagi dan mengadu.  Berbeda dengan Allah yang telah memberikan sarana bincang-bincang dengan hamba-Nya paling tidak lima sesen dalam sehari semalam, yakni sholat.  Yah sholat, sholat merupakan sarana perjumpaan antara seorang hamba dengan Tuhannya.  Segala persoalan kehidupan hingga kebutuhan manusia, disanalah bisa dikeluhkan dan dikonsultasikan lewat sholat, subhaanallah..
Kekesih kita Muhammad SAW, memberikan info penting kepada umatnyua bahwa: “Ashsholaatu mi’rojul mu’min; sholat merupakan mi’rojnya seorang mukmin”. Mi’roj merupakan perjumpaan nabi Muhammad SAW dengan Kekasihnya yakni Allah SWT ketika nabi dilanda problem hebat dan kemudian lewat mi’rojlah nabi menuntaskan segala keluhan dan kebutuhannya sekaligus  bernostalgia keliling alam jagat semesta raya.  Itu artinya bahwa sholat yang dilakukan oleh seorang mukmin, merupakan bentuk lain dari mi’roj sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi.  Siapa yang tidak merindukan perjumpaan dengan Sang Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Menolong dan Maha Memeberi..?? Sayangnya fasilitas sholat yang Allah syari’atkan kepada hamba-Nya, tidak dimaknai sebagai fasilitas yang sebenarnya memanjakan dan membahagiakan pelaku sholat tapi justru menjadi beban, na’udzubillah..
Begitu pentingnya fungsi dan peranan sholat terhadap kesuksesan kehidupan, Nabi Ibrohim as selalu meperhatikan persoalan sholat (QS. Ibrahim: 37 dan 40). Allah SWT dalam Al Qur’an menginformasikan betapa dasyatnya peranan sholat terhadap perjalanan sejarah seseorang :“Sesungguhnya (amat) beruntunglah (aflakha) orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. QS. Al Mu’minun: 1-2. Perhatikan kata aflakha..! Kata tersebut memakai kalimah isim tafdhil yang berarti melebihkan makna aslinya dari asal kata falakha (beruntung). Jadi kata aflakha tidak cukup diartikan sebagai keberuntungan saja, tapi kata aflakha memiliki arti yang cukup luar biasa yakni keberhasilan, kesukesan hidup, kejayaan karir, ketenangan hati, kedamaian rumah tangga, keindahan akhlak dan kebahagiaan hidup dunia akhirat. Untuk siapa fasillitas kemuliaan aflakha ini..?? Yakni orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.
Jika sekiranya orang tua mendidik anaknya tentang bagaimana pentingnya fungsi dan efek sholat sejak dini disertai dengan peneladanan orang tua, niscaya tidak dan tidak akan pernah ada orang tua yang stres gara-gara ulah kenakalan anaknya.   Tidak akan ditemukan anak yang membangkang dan berani membentak perintah seorang ibu, karena anak sudah trcerahkan dqan terbimbing  dengan terbiasa berjumpa dengan Kekasihnya (Allah) lewat sholat.  Perhatian orang tua terhadap anak tentang sholat mestinya mendapat peringkat utama karena dari sholatlah segala persoalan hidup akan mudah diselesaikan dan ditolong jika seluruh penghuni rumahnya sholat (QS. Al Baqarah: 45). Sungguh lebih ringan bertakbir mengangkat kedua tangan untuk sholat dan mengontrol sholatnya anak-anak dari pada menguras sumur atau mengangkat cangkul disawah. Karena memang sholat bukanlah sekedar pekerjaan fisik tapi psikis dan keterlibatan peran hati yang tidak sekedar dipahami sebagai bacaan atau gerakan dan kewajiban belaka oleh umat Islam tapi sholat menjadi kebutuhan, yah “kebutuhan” dan “mi’roj” sarana perjumpaan hamba dengan Sang Kekasihnya Allah SWT, sehingga ini mustinya menjadi kebutuhan pokok jasmani dan rohani manusia.  Melihat sedemikian urgentnya implikasi sholat terhadap benteng pendidikan anak, sudah menjadi semetinya orang tua sadar melakukan “Gerakan Orang Tua Peduli Sholat” dengan memastikan penghuni keluarganya melaksanakan sholat fardlu sejak dini dengan peneladanan dari orang tua.
Kesalehan dan ketaatan Nabi Isma’il as terhadap perintah orang tuanya, dapat teruji ketika ayahnya menerima wahyu untuk menyembelih Nabi Isma’il as, jawaban tegas meluncur dari anak hasil pendidikan orang tua yang melakukan minimal tiga langkah sukses mendidik anak yang sholih sholihah, Nabi Isma’il as mengatakan :”Yaa abatif’al maa tu’maru ; Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu!”. QS. Ash shaaffaat: 102. Subhanallhah.. Semoga Allah senantiasa membimbing para orang tua kepada jalan yang lurus dan pada saat itu juga Allah akan mengkaruniakan Ismail-ismail kepada oarang tua. Sekarang bagaimanakah perhatian orang tua kita terhadap anaknya, sudahkah mereka lakukan? Mari warga rifaiyah kita ciptakan masyarakat yang cinta dan perhatian sama anak-anak dalam kajian diatas, jangan sampai di biarkan begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar